Kamis, 09 Maret 2017

Kain Untuk Suami


Judul
:
Tenun Tradisional Nusa Tenggara Timur, Kain Untuk Suami
Penulis
:
Fenny Purnawan
Fotografer
:
Poriaman Sitanggang
Penerbit
:
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk & PT. Natayu
Tahun Cetak
:
2004
Halaman
:
132
ISBN
:
979-98625-0-7
Harga
:
Rp. 140.000
Status
:
Ada

Sejak lama, filosofi di balik estetika motif-motif yang tersebar di Nusantara –yang sering lenyap tanpa suara- menantang kita untuk segera mancatat, menata, mengartikan dan yang tidak tertinggal juga menginventarisasinya.

Pendekatan kekayaan budaya kadang-kadang hanya mengundang chauvinisme, atau digunakan dalam upaya diplomasi di hadapan antar bangs: betapa kita ini berbeda. Kita “mengeksploitasi” hal itu, sebagai identitas budaya. Tetapi di lain pihak keberadaannya terabaikan dan rapuh. Strategi kebudayaan Nusantara belum terpapar secara struktural. Sementara itu, banyak karya seni Nusantara lenyap dari konteks masyarakatnya, namun dipajang di salah satu museum dunia.

Selagi kita berkutat membicarakan perhatian negara terhadap warisan budaya, kita masuk dalam detak mesin dunia globalisasi. Penyeragaman hidup. Nilai estetika asing tak henti-hentinya tiba dari dunia barat lewat munculnya generasi TV atau pun yang dipanuti para khalayak “gedongan”. Seolah-olah itulah ukuran sebuah kemajuan sosial atau prestise ekonomi. Bisakah kita mengartikan kemajuan berbangsa dengan menampilkan sebuah budaya yang dapat kita banggakan? Apakah kita tidak tergugah untuk mengintai “kekayaan” yang pernah kita miliki, lebih dari sekedar pemetaan geografis?

Keberadaan sebuah kehidupan seni dalam ekspresi karya komunitas “indigenous”, tidak mungkin terpisah dari tisikan sejarah leluhur atau tatanan budaya dan sosial. Bahkan tatanan batin dan keluhuran alam. Sayangnya, tutur arti motif-motif karya tenun Nusa Tenggara Timur belum lazim dikenal masyarakat pulau-pulau lain. Namun, sering terjadi, sebelum kita sempat menengok sejarah, teknik atau motif itu pudar dan tak terulang lagi.

Karya para master tenun kita yang langka dan indah, sebagian besar “terbang” ke museum dunia. Sebagian lagi, di tangan kolektor pribadi. Karya-karya itu telah tercabut ddari konteks masyarakatnya. Akibatnya, masyarakat pembuat tenun sering tidak memahami lagi makna estetika atau teknik dari karya para leluhur. Sementara itu, masyarakat Indonesia pemerharti tenun harus pergi ribuan kilometer untuk mempelajari karya-karya tersebut.

Sejak masa kolonial, dunia Barat mencoba memahami benda-benda peninggalan negara jajahannya. Pada era abad dua puluh satu, museum di Barat berpacu memahami seni-seni “pemula” (primitive). Orang Prancis menyebutnya bukan lagi primitif, tetapi Les Arts Premieres. Koleksi ini bisa mengangkat prestise museum.

Buku ini mencoba menjembatani pembaca dengan dunia tenun. Bukan hanya dari deskripsi estetika. Tetapi ikut merasakan bagaimana para pelaku mencintai kehidupannya. Segala upaya mengupas dan mendekatkan diri dengan keragaman budaya Nusantara yang menjadi bagian identitas kita adalah pekerjaan yang berarti. Kita berharap tersebarnya makna estetika tenun tersebut, bisa memperkaya peradaban hidup kita.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...