Kamis, 18 Januari 2018

Meniti Jalan Pulang

Judul
:
Kertas Posisi Meniti Jalan Pulang: Membawa Anak-anak Timor Leste yang Dicuri dan Dibawa ke Indonesia untuk Bertemu Kembali dengan Keluarga Mereka
Penerbit
:
Asia Justice and Rights
Tahun
:
2016
Halaman
:
18
ISBN
:
-
Sumber
:
Download
:

Sejak 2013 sampai 2016, AJAR dan kelompok masyarakat sipil lainnya bekerja sama dengan Komisi Nasional HAM Indonesia dan Provedor untuk Hak Asasi dan Keadilan Timor-Leste untuk mencari anak-anak yang dicuri dari Timor-Leste dan dibawa ke Indonesia selama konflik dari 1975-1999. Sampai saat ini, kami telah mendokumentasikan cerita dari 65 orang, 30 di antaranya berpartisipasi dalam reuni dengan keluarga mereka di Timor-Leste.

CAVR, komisi kebenaran dan rekonsiliasi di Timor-Leste (2002-2005), telah mengumpulkan dan menelaah lebih dari 8.000 kesaksian yang berkaitan dengan periode konflik 1974-1999. CAVR memperkirakan bahwa ribuan anak-anak Timor telah dipindahkan secara paksa ke Indonesia selama periode ini. CAVR menemukan bahwa “praktik umum pengambilan anak-anak ini menunjukkan pandangan bahwa dengan menguasai wilayah Timor-Leste, Indonesia memiliki kekuasaan tak terbatas terhadap anakanak… Anggota ABRI dan orang lain yang berkuasa di Timor Leste merasa berhak untuk mengambil anak Timor-Leste tanpa ijin dari orang tua mereka.”

Pada tahun 2005, pemerintah Indonesia dan Timor-Leste secara bersama membentuk Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) Indonesia – Timor-Leste, dengan berisikan komisioner dari kedua Negara. Laporan KKP pada 2008 memperkuat rekomendasi CAVR terkait kasus anak yang diambil paksa dan merekomendasikan agar kedua Negara membentuk komisi yang salah satu mandatnya adalah mencari anak-anak yang terpisah dari orang tua mereka. Pada Oktober 2011, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden tentang rencana aksi pelaksanaan rekomendasi KKP. Namun hingga laporan ini dibuat, semua rekomendasi berkaitan orang hilang dan anak-anak yang dipisahkan belum juga diimplementasikan.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, kami menemukan bahwa sebagian kecil dari mereka dapat hidup dalam kondisi baik. Sementara itu, sebagian besar dari mereka menghadapi kesulitan ekonomi, hidup di rumah yang tidak layak, tidak memiliki tanah, dan tidak mendapat pekerjaan yang layak karena rendahnya tingkat pendidikan. Hampir semua dari anak-anak tersebut masih bergulat dengan trauma yang belum terselesaikan. Sebagian besar anak diambil tanpa persetujuan dari orang tua. Janji akan mendapat pendidikan yang lebih baik tidak pernah terwujud. Banyak dari mereka yang diabaikan, baik oleh orang tua yang “mengadopsi” atau lembaga yang memelihara mereka. Sebagian lainnya tinggal bersama keluarga yang tidak mampu menyekolahkan mereka. Beberapa diantara mereka bahkah bertahan hidup sendirian di jalanan.

Kami mendesak agar dilakukan upaya yang serius untuk membantu menyatukan kembali anak-anak yang dicuri dari Timor-Leste dengan anggota keluarga mereka. Meskipun sekarang mereka telah dewasa, pengambilan mereka harus dilihat sebagai pelanggaran HAM yang masih berlangsung. Oleh karena itu, langkah nyata harus dibuat untuk membantu mereka bersatu kembali dengan keluarga mereka dan membangun kembali kehidupan mereka. Rekomendasi yang lebih rinci kami sajikan di akhir laporan ini.

Selasa, 16 Januari 2018

Kain Tenun Tradisional Nusa Tenggara

Judul
:
Kain Tenun Tradisional Nusa Tenggara
Penyusun
:
Ny. Dra. Suwati Kartiwi
Penerbit
:
Museum Pusat Jakarta
Tahun Cetak
:
1974
Halaman
:
85
ISBN
:
-
Harga
:
Rp. -
Status
:
Kosong

Gagasan untuk memulai suatu penulisan buku yang mengandung bahan keterangan singkat tetapi menyeluruh tentang tenun pada masyarakat dari berbagai daerah Indonesia, telah sejak lama menjadi cita-cita kami yang bertugas di Museum Pusat Jakarta.

Penulis mengerti bahwa suatu buku semacam itu sebaiknya ditulis bersamaan para ahli pertenunan yang telah mengenal berbagai macam teknik pertenunan dari macam-macam daerah yang beraneka warna di Indonesia. Demikian pula waktu yang tidak sedikit diperlukan untuk mengumpulkan data-data, pengalaman kerja di lapangan di desa-desa.

Dari buku seperti penulis kerjakan, penulis menyadari keurangan-kekurangannya dan mengharapkan berbagai kritik untuk memperbaiki serta menyempurnakan isinya agar supaya dapat menambah pengertian mengenai: 1) Macam-macam tekstil tradisional di Indonesia yang bersangkut-paut dengan aneka masyarakat dan adat istiadat; 2) Teknik-teknik tenun tradisional yang merupakan warisan budaya nenek moyang yang perlu dipelihara.

Meskipun tidak lepas dari kesulitan-kesulitan bahan kepustakaan dan pekerjaan di lapangan, penulis berusaha sedapat mungkin memperoleh data-data di sekitar Jakarta dan dari koleksi Museum Pusat sendiri.

Mutiara Pulau Timor Buku II

Judul
:
Mutiara Pulau Timor Buku II
Penyusun
:
P. Tadeusz Bartkowiak SVD
Penerbit
:
Nusa Indah
Tahun Cetak
:
1977
Halaman
:
124
ISBN
:
-
Harga
:
Rp. 60.000
Status
:
Kosong


Dalam kata pengantar Mutiara Pulau Timor, buku I, tertulis bahwa usaha membukukan dongeng-dongeng mempunyai tujuan agar supaya ceritera-ceritera tersebut tidak hilang begitu saja.

Harus ditambahkan pula bahwa di samping itu karya ini bermaksud menyadarkan para pembaca kebudayaan setempat harus dijunjung tinggi karena adat istiadat para penduduk asli, cara hidup sehari-hari dan alam pikiran mereka bukan dari kemarin akan tetap sudah berabad-abad usianya.

Buku kedua ini merupakan sambungan buku pertama. Ceritera dongeng yang disajikan dalam buku ini diketemukan dalam beberapa kampung di daerah Belu Selatan di Pulau Timor. Dari 12  ceritera dongeng yang dimuat dalam buku ini, satu saja, yakni: “Suri Ikun dan ular berkepala tujuh”, yang berasal dari Belu Utara.

Di dalam “Eenige Fabels en Volkslegenden van de Onderafdeeling BELOE op het eiland Timor door A. Mathijsen, 1915, pada halaman 12 terdapat ceritera: “Michel no samea oeloen hitoe” yang mirip dengan dongeng: Suri Ikun…. Kedua ceritera itu rupanya berasal dari luar Timor.

Semoga jilid kedua ini mendapat sambutan yang hangat juga di masyarakat kita terutama di antara para generasi muda.

Jumat, 12 Januari 2018

Teperpu Mengungkap Pengkhianatan PKI pada Tahun 1965 dan Proses dan Proses Hukum bagi Para Pelakunya

Judul
:
Teperpu  Mengungkap Pengkhianatan PKI pada Tahun 1965 dan Proses dan Proses Hukum bagi Para Pelakunya
Penulis
:
Aco Manafe
Penerbit
:
PT. Pustaka Sinar Harapan
Tahun Cetak
:
2008
Halaman
:
225
ISBN
:
978-979-416-900-1
Harga
:
Rp. 80.000
Status
:
Kosong

Dalam tulisan tentang “Kegagalan Gerakan 30 September Ditinjau dari Segi Militer,” eks-Brigjen Soepardjo berpendapat bahwa melihat kemampuan dan kebesaran organisasi pada waktu-waktu itu, asal saja para pimpinan taktis menggerakkannya, maka ia yakin bahwa PKI tidak perlu kalah.

Menurut Soepardjo, pangkal dari semua kesalahan Gerakan 30 September disebabkan staf pimpinan terdiri dari tiga lapisan, yaitu kelompok Ketua, kelompok Sjam dan kelompok Untung. Seharusnya pimpinan operasi berada dibawah satu tangan.

Di antara kelemahannya ialah pelaksanaan gerakan kelewat dipaksakan. Minimal secara militer belum ada persiapan yang memadai. Kekuatan militer untuk perebutan kekuasaan juga tidak sekuat dibayangkan.

Sudisman Wakil Ketua III CC PKI yang kemudian menjadi pucuk pimpinan CC PKI, mengkritik G30S sebagai Petualangan Avonturisme Militer DN Aidit.

Sjam Kamaruzaman, Ketua Biro Khusus PKI, memperkirakan bahwa setelah pecah pemberontakan G30S Angkatan Darat akan lumpuh selama 40 jam. Ternyata dalam beberapa jam saja Angkatan Darat telah berhasil melakukan konsolidasi, kemudian melakukan serangan balasan.


Selasa, 09 Januari 2018

Mengawali Integrasi Mengusung Reformasi

Judul
:
Mengawali Integrasi Mengusung Reformasi Pengabdian Alumni Akabri 1970
Editor
:
Sudrajat dkk
Penerbit
:
Kata Hasta Pustaka
Tahun Cetak
:
2013
Halaman
:
504
ISBN
:
978-979-1056-49-6
Harga
:
Rp. 100.000
Status
:
Ada

"Harus diakui bahwa para perwira lulusan Akabri tahun 1970 selain menjadi angkatan pertama dari pendidikan pembentukan perwira terintegrasi, pada sisi yang lain ternyata juga bersikap kritis dan dinamis sehingga mampu menjawab tantangan perubahan lingkungan yang terjadi secara cepat dan tepat."
- Dr. Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan RI

"Menarik untuk menyimak pengalaman Akabri lulusan tahun 1970 yang ditulis secara populer dalam buku ini. Kisah pengalaman mereka banyak mengandung butir-butir sejarah TNI yang tercecer dan dapat terlupakan. Butir-butir sejarah TNI ini dapat melengkapi kekosongan uraian sejarah TNI yang kita m
iliki saat ini guna membangun generasi TNI masa depan yang lebih baik."
- Prof. Dr. Juwono Sudarsono

Baru tiga jam menjabat sebagai Panglima Kostrad, Mayjen Johny J. Lumintang sudah diperintahkan untuk menyerahkan jabatannya kepada orang lain. Apa pikiran yang berkecamuk dalam diri Johny? Haruskah ia melawan atau patuh sebagai prajurit TNI, haruskah ia mundur dari dinas kemiliteran karena tindakan pimpinannya? Baca "drama" Pangkostrad 17 jam yang belum pernah diungkapkan sebelumnya!

Mengapa ada rekan satu angkatan dan beberapa senior yang sinis ketika melihat bahwa Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo menjadi Komisioner Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) Indonesia - Timor Leste? Dan mengapa pula Agus dapat menerima temuan KKP bahwa TNI secara institusional bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di Timor Timur tahun 1999?

Mengapa Jenderal Polisi Suroyo Bimantoro menolak mundur dari jabatan Kapolri, meskipun didesak oleh Gus Dur? Untuk pertama kalinya, Bimantoro secara terbuka mengungkap detik-detik mendebarkan ketika ia dan Presiden RI berbeda pendapat dan sikap, yang menjadi awal "badai" yang menimpa Kepolisian RI tahun 2001 lalu.

Buku ini terdiri dari bagian satu: Penugasan para perwira alumni Akabri Pertama 1970 dalam operasi militer dan non militer diantaranya Operasi Seroja dan Operasi Pra-Seroja, Bintang sakti dan KPLB, Pencagahan Kapal Lusitania Expresso hingga Lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Bagian  dua: Mengenal Akabri Pertama 1970. Bagian tiga: Menemukan Kembali Jati Diri TNI dan Reformasi Internal TNI. Bagian empat: Pengabdian Purna Bakti dan Bagian lima: Peninggalan bagi Generasi Penerus.serta Bagian enam: Renungan dan Harapan.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...