Jumat, 20 Januari 2017

Portuguese Timor

Judul
:
Portuguese Timor
Penulis
:
Great Britain. Foreign Office. Historical Section
Penerbit
:
H.M.S.O - London
Bahasa
:
Inggris
Tahun Cetak
:
1919
Halaman
:
26
ISBN
:
-
Sumber
:
Download
:

Portuguese Timor, which occupies the northern half of the island of Timor, lies between 8° 30’ and 9° 30’ south latitude and 125° and 126° 30’ east longitude. The area of the main portion is about 6,325 square miles, and that of the Ocussi enclave, a territory belonging to Portugal on the northern coast of Dutch Timor, about 950 square miles. The island of Kambing, off the northren coast, also belongs to Portugal; its area is 55 square miles. The total area of the colony is thus approximately 7,330 square miles.

The boundary between Dutch and Portuguese territory is formed by a line drawn between the mouth of the Biku and the Talas, on the north and south respectively, which at its central portion makes a decided bend eastward. The boundaries of the enclave are lines running roughly north-east and south-west from the mouths of the Besi and the Meto respectively.

Kamis, 19 Januari 2017

Perempuan Dalam Hidup Sukarno Biografi Inggit Garnasih

Judul
:
Perempuan Dalam Hidup Sukarno Biografi Inggit Garnasih
Penulis
:
Reni Nuryanti
Penerbit
:
Ombak
Tahun Cetak
:
2007
Halaman
:
386
ISBN
:
979-3472-69-3
Harga
:
Rp. 80.000
Status
:
Ada

Siapakah sosok yang paling banyak memberi kontribusi dalam peijalanan hidup Sukarno? Sosok itu beijenis kelamin perempuan. Tanpa mengurangi peran perempuan (lain) dalam hidup Sukarno, nampaknya, Inggit Garnasihlah yang berada dalam posisi penting tersebut. Kematangan dan kedewasaan serta pencapaian intelektual seseorang pada umumnya dicapai pada usia 40-an tahun, termasuk manusia yang bernama Sukarno. Selama proses pencapaian tersebut, separuhnya ia jalani bersama dengan Inggit Garnasih. Biografi ini-ditulis oleh perempuan muda, alumnus sejarah Universitas Negeri Yogyakarta yang baru lulus tahun 2006-mengisahkan proses pergulatan tersebut.

Salah satu ciri biografi yang baik dan yang membedakannya dengan tulisan sejarah pada umumnya adalah kemampuannya menceritakan hal-hal yang detail tentang tokoh yang dikisahkannya. Dari kisah tersebut, pembaca dimungkinkan untuk mengetahui kepribadian, kekuatan sosial, dan sensibilitas, serta keberuntungan dan kesempatan sang tokoh. Fengetahuan ini memberi kesempatan kepada kita untuk memahami titik-titik kisar yang menentukan dalam hidup seseorang; bagaimana seseorang bergumul, menjawab dan melampaui tantangan hidup yang dihadapinya. Pada titik inilah, biografi mampu memberi hikmah dan inspirasi bagi pembaca dari pengalaman hidup seorang anak manusia.

Buku ini akan membantu pembaca untuk mengetahui dan memahami sosok Inggit Garnasih dengan segala suka-dukanya dalam mengarungi hidup, baik ketika bersama maupun ketika Inggit memilih untuk berpisah dengan Sukarno. Berbagai detail cerita yang dikisahkan dalam buku ini mampu mendekatkan kita dengan sang tokoh yang dikisahkan. Diakui oleh Reni Nuryanti, penulis buku ini, bahwa ia sangat mengagumi dan memberi apresiasi yang dalam terhadap sosok Inggit, sehingga dalam beberapa hal, penulis tidak mampu mengambil jarak dengan tokoh yang ditulisnya. Apa pun kekurangannya, buku ini tetap menarik dan penting serta menunjukkan bahwa perempuan adalah makhluk yang otonom dan mandiri serta bisa menjadi kekuatan sejarah.

Dalam buku ini terdapat 4 bab yang membahas kehidupan Inggit Garnasih dengan Sukarno beserta keluarga di Ende – Flores, dari awal mula kedatangan hingga kepindahan Soekarno bersama keluarga ke Bengkulu. Selama di Ende juga banyak kisah terjadi salah satunya adalah kehilangan ibu tercinta yaitu Ibu Amsi, yang adalah mertua Sukarno.

Rabu, 18 Januari 2017

Mengenal 25 Teori Sastra

Judul
:
Mengenal 25 Teori Sastra
Penulis
:
Yohanes Sehandi
Penerbit
:
Ombak
Tahun Cetak
:
2015
Halaman
:
226
ISBN
:
602-258-187-1
Harga
:
Rp. 50.000
Status
:
Ada

Belajar teori sastra itu menarik dan mengasyikkan, sebab teori-teori yang ditawarkan merupakan hasil pemikiran para ahli sastra yang berasal dari berbagai belahan dunia sehingga kita dapat menyelami khazanah dunia sastra secara lebih mendalam, membuat kita lebih percaya diri. Teori sastra merupakan akumulasi pergulatan intelektual para pemikir sastra sepanjang perjalanan sastra, sejak awal mula sampai dengan saat ini, sehingga konsep-konsep teoretis itu akan sangat membantu siapa saja yang mempelajari teori sastra secara lebih mendalam dan komprehensif.

Hal yang tak terhindarkan dalam penyusunan buku ini adalah mengadopsi sejumlah nama teori dan konsep teoretis dari sejumlah disiplin ilmu sosial dan humaniora lain guna melengkapi nama dan konsep teori sastra yang sedang berkembang di Indonesia pada saat ini. Meskipun mengandung konsep teoretis, namun karena disajikan dengan sederhana, para mahasiswa tidak sulit memahami isi buku ini. Kiranya buku ini masuk dalam deretan buku referensi teori sastra yang sudah beredar, baik buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia maupun buku terjemahan.

Selasa, 17 Januari 2017

Timor

Judul
:
Timor
Penulis
:
Exposition Internationale d'Anvers
Penerbit
:
Agence Générale des Colonies  - Lisbonne
Bahasa
:
Prancis – Inggris
Tahun Cetak
:
1930
Halaman
:
20
ISBN
:
-
Sumber
:
Download
:

The island of Timor is the largest of the Lesser Sunda Islands, in the Malay Archipelago. The north-eastern part of Timor, together with the small enclave of Ocussi and the islands of Cambing and Jaco, belong to Portugal, whilst the south-western half belongs to Holland and forms part of the Dutch East Indies.

The first Europeans 10 land on Timor were the Portuguese monk of the Larantuka mission. The Portuguese had already settled at Larantuka and the island of Solor, both of which were ports of call for the ships bound of Moluccas. The influence of the monk very soon spread all over the archipelago, and this brought about a combination of several Timorese chiefs with the Dutch, who invested and succeeded in seizing the Portuguese fortress. It was, however, re-captured by Miguel Rangel, and missionary work was carried out with such a success that many native chiefs were converted, together with a large part of the population.

At the close of the 17th century the Portuguese Gonverment of India understood the adventages of keeping Timor under control, and sent Antonio Coelho Guerreiro as a Governor of Timor and Solor.

In 1859 a treaty was signed by Portugal and Holland in which a boundary through the central part of the island was described. A convention was signed in 1893, and another treaty was carried into effect in 1904. The capital of the Portuguese colony is now Dili, on the northern coast. The Portuguase headquerters had been Lifao, in Ocussi, for a long time.

Senin, 16 Januari 2017

Colonies Portvgaises Timor

Judul
:
Colonies Portvgaises Timor
Penulis
:
-
Penerbit
:
Agence Générale des Colonies - Lisbonne
Bahasa
:
Prancis
Tahun Cetak
:
1926
Halaman
:
29
ISBN
:
-
Sumber
:
Download
:

Aprés la fondation de I’Empire Portugais en Orient et la conquéte de Malacca en 1511 par Affonso d’Albuquerque ce vaillant capitaine décide de s’approprier les íles connues sous le nom de Molucas. Pour cette nouvelle enteprise, il gréa trois galéres et nomma grand-capitaine, Antonio de Abreu, un de ses plus courageux capitaines.

Pour le voyage de Malacca aux Molucas, les 3 galéres firent route tout au long de I’île de Sumatra et, aprés avoir aperçu diverses autres îles, mirent le cap sur Java. De lá elles naviguérent vers l’est en passant par Madura, Bali, Sumbawa, de I’archipel de la Sonde et, continuant par le détroit de Larantuka, touchérent au port de Solor, dans I’ile du méme nom, oú elles jetérent I’ancre.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...